Bagikan ke
Kwikku
Bagikan ke
Facebook
Bagikan ke
Twitter
Bagikan ke
LinkedIn
Bagikan ke
Google+
KINI AKU BAHAGIA (cerpen)
KINI AKU BAHAGIA (cerpen)
KINI AKU BAHAGIA (cerpen), Aku rasa hari ini matahari terlalu terik. Badanku berkeringat, baju yang aku kenakan basah di bagian punggung. Tanganku meraih botol minuman yang disediakan mas Farid di mobil. Dia sengaja membelikan beberapa minuman dan makanan sebelum menjemputku dari tempat kerja tadi. Aku mereguknya perlahan, rasa hausku pun berkurang.

Dari kejauhan mas Farid tampak tergesa-gesa keluar dari gedung kantor pelayanan perizinan. Ia membuka bagasi mobil tanpa berkata-kata. Rupanya ada dokumen yang tertinggal. Setelah menemukan kertas yang dicarinya dari sebuah map, ia lantas melambaikan tanganya kepadaku sambil tersenyum manis, memberi kode, “Tunggu sebentar”.

Saat ini, mas Farid sedang mengurusi surat perizinan pendirian banguan untuk tempat usaha pribadinya. Usaha ini telah mas Farid rintis dari dulu. Katanya sih ya.., ia menjadi kembali bersemangat setelah merasa begitu dekat denganku.

Punggung mas Farid menghilang ditelan tembok-tembok gedung kantor pelayanan perizinan itu. Gedung dengan cat warna putih yang terlihat usang itu  berdiri kokoh di tengah-tengah lahan yang aku kira sebelumnya ini adalah sebuah padang rumput yang luas di daerah kabupaten Bandung. Lihat saja sekelilingnya, di luar pagar pembatas, rerumputan masih terhampar hijau menyejukkan mata. Aku sendiri sekarang diam di dalam mobil di bawah pohon ketapang yang rindang. Pintu mobil sengaja dibuka, ac dimatikan, agar bisa menghirup udara segar. Mas Farid bilang, tak baik jika terlalu banyak menghirup udara ber-ac di dalam mobil. Jika ada kesempatan menghirup udara segar, maka lakukanlah.

Rasanya mas Farid lama sekali berada di dalam gedung. Lamunanku mulai menerawang mengenang masa-masa indah bersama mas Farid.

Hm… Kedatangan cinta memang tak bisa diduga dan tak bisa direncanakan. Lihat saja, dulu kami berada dalam kisah yang berbeda. Masing-masing punya cerita dengan babak-babak yang sama sekali tidak berkesinambungan. Mas Farid sebagai tokoh apa, dan aku pun demikian. Dia ebagai tokoh ayah yang baik disukai anak-anak namun merasakan kelelahan hati yang teramat sangat karena memiliki istri yang super sibuk sehingga dia harus mengurusi kedua anaknya. Dari mulai sarapan, mengantar sekolah, menemani mengerjakan tugas sekolah sampai dengan membacakan cerita dongeng pengantar anak-anak tidur.

Semetara aku sebelum di sini, juga sebagai istri seorang eksekutif muda yang gila kerja lupa waktu untuk keluarga. Kalau aku boleh berpendapat, kami ini dipertemukan oleh Allah dalam keadaan yang tepat. Mas Farid membutuhkan seorang istri yang lebih bisa mengerti, dan aku membutuhkan seorang suami yang bisa memberikan perhatian dan perlindungan  di tengah kesibukan pekerjaannya.

Istrinya yang sibuk dengan segudang pekerjaannya menolak untuk mengurangi kesibukannya demi anak-anak. Membuatnya merasa kurang berharga sebagai seorang suami. Otoritas sebagai suami diabaikan. Dimana posisi menjadi terbalik ia harus mengurusi rumah dan anak-anak, sementara istrinya menggilai pekerjaannya sebagai bidan yang bekerja di dua tempat. Di lembaga pemerintah dan di tempat praktek yang dibangun bersama dengan rekan seprofesinya. Sementara anak-anak dibiarkannya haus kasih sayang seorang ibu. Pergi pagi pulang larut malam ketika keduanya telah tertidur lelap.

Setelah beberapa kali meminta istrinya mengurangi kesibukannya ia malahdituding sebagai pengekang. Padahal kurang apa, bisnisnya sedang berjalan baik. Disela-sela kesibukan mengurusi anak-anak, ia masih bisa memanage usaha dengan baik.

Nasib mu memang malang Mas, istrimu memilih meminta mengakhiri pernikahan yang selama ini kalian bangun selama 8 tahun, bukan waktu yang sebentar. Kesabaranmu telah disia-siakan. Tapi hati anak-anakmu tak bisa dibohongi, mereka memilih untuk tetap tinggal bersamamu. Sesil dan Vito kini tumbuh sebagai anak-anak yang santun dan berperangai sangat menyenagkan. Kamu hebat Mas, aku yakin sampai kapanpun anak-anakmu akan tetap mengidolakanmu. Jangankan mereka, aku saja yang awalnya bukan siapa-siapanya kamu sangat mengagumi kesabaranmu dan sikap kelemah lembutan yang kamu miliki. Mungkin itu pula yang menjadikan aku tiba-tiba jatuh hati kepadamu Mas. Aku merasa menemukan sosok ayah yang aku harapkan selama ini untuk Atar putraku. Dan kini harapan terkabul tanpa pemaksaan. Sungguh aku tidak merebutmu, dan kamupun tidak merebutku dari mantan suamiku. Kita bertemu dalam kondisi telah sama-sama sendiri.

Sementara aku memiliki masa lalu kehidupan rumah tangga yang sama buruknya. Bahkan bisa dikatakan lebih memilukan daripada kisah yang mas Farid alami. Jika mereka berpisah karena alasan sudah tak sejalan, tapi kisahku? Mantan suamiku adalah laki-laki yang paling romantis selama masa pacaran. Walaupun pada akhirnya aku baru sadar, jika pacaran itu tidak menjamin kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga. Saat pacaran dulu mantan suamiku, Randi, adalah benar-benar sosok pria idaman. Tak pernah lupa memberikan hadiah di setiap moment yang tepat. Membuat aku merasa memiliki hidup yang sempurna. Randi adalah pria yang tampan, berbadan tinggi atletis. Perempuan mana yang tak akan merasa bertambah tingkat rasa percaya dirinya saat berjalan bergandengan dengannya. Pada usianya yang masih muda ia telah meraih kesuksesan dalam karirnya. Sampai saatnya tiba kami menikah, pesta pernikahan kami digelar dengan sangat mewah. Semua keluarga memiliki pakaian seragam terbaik didesain khusus oleh desainer yang dibayar Randi. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur mendapatkan suami yang bisa membahagiakan semua anggota keluarga besarku. Banyak yang berdecak kagum dan tak henti-hentinya melontarkan pujian kepadaku mendapatkan suami kaya dan sangat menyayangiku.

Namun baru saja pernikahan kami seumur jagung, pendapat miring tentang suamiku mulai berdatangan. Mulai dari kabar-kabar yang aku dengar bahwa ada yang melihat suamiku bersama perempuan lain. Kabar itu sangat menyakitkanku. Tapi aku tak mau langsung percaya sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Walau kabar demi kabar yang aku dengar selalu memporakporandakan benteng pertahananku, membuat air mataku mengalir deras berkali-kali, namun aku tak pernah berhenti mencintai Randi. Ia tetap suamiku, ayah dari anak yang sedang aku kandung saat itu.

Hal yang menyakitkan berikutnya adalah ketika aku baru saja melahirkan putra ku, seorang perempuan datang ke rumah mengaku sebagai istri Randi, yang dinikahi empat bulan lalu. Betapa hancur perasaanku saat itu. Apalagi beberapa rekan kerja Randi yang kebetulan sudah cukup kenal dekat denganku sejak sebelum menikah dulu, secara tidak sengaja membongkar sebuah kenyataan. Bahwa Randi pernah berkata kepadanya jika Randi menikahiku hanya karena aku adalah perempuan yang paling baik, paling setia, dan paling sabar untuk disakiti olehnya. Sungguh setelah kedatangan perempuan yang mengaku sebagai istri Randi aku merasa sudah tak tahan lagi. Aku mengajukan gugatan cerai yang tidak mudah dikabulkan. Randi tak mau menceraikanku. Ia memohon maaf atas sikapnya selama ini, ia mengaku khilaf atas semuanya. Maka demi rasa cintaku, terutama demi putraku yang memerlukan ayahnya, aku terima permohonan maaf Randi. Kami kembali hidup normal, walaupun ada Lina istri kedua Randi.

Tahun kedua pernikahanku dengan Randi, Lina datang bersama bayinya. Menangis tersedu membawa kabar menyakitkan. Ternyata Lina telah beberapa kali memergoki Randi pergi berdua dengan sekretris barunya. Masalahpun semakin pelik. Dengan hati yang pilu, aku berusaha menguatkan diriku dan menghibur putraku yang kerap bertanya kemana papahnya.

Tahun ketiga pernikahan aku dan Randi akhirnya resmi bercerai. Aku kembali ke kehidupan biasa bersama orangtuaku. Tanpa fasilitas yang serba mewah. Tak satupun harta yang aku bawa pergi dari rumah Randi, aku tak mau ada satupun kenangan yang aku bawa tentang Randi. Walaupun aku tak pernah benar-benar mampu menghapus rasa cintaku kepada Randi.

Dua tahun aku bekerja keras menghidupi putraku dengan bekerja di sebuah perusahaan percetakan. Tempat kerja yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal orangtuaku, sesekali di tengah-tengah kesibukanku aku masih bisa pulang menemui putraku di rumah. Perlahan akupun bisa melupakan masa laluku bersama Randi. Aku mulai asik sendiri, hidup bersama putraku, kedua orangtuaku serta adik ku yang selalu menerimaku apa adanya, dan membantuku dengan tulus menjaga dan membesarkan Atar samapai berusia lima tahun.  

Sampai suatu hari aku bertemu mas Farid, ia datang sebagai klien ke perusahan tempatku bekerja. Kerja sama kami berjalan lancar, dari sana kami menjadi sering melakukan pekerjaan bersama. Aku merasa menemukan rekan kerja yang sefaham, aku dan mas Farid selalu kompak jika melakukan pekerjaan bersama membuat pekerjaan cepat terselesaikan dengan akhir yang menyenangkan. Selama kedekatan kami sebagai partner kerja, aku semakin mengenal mas Farid yang akhirnya aku tahu bahwa ia sudah tiga tahun hidup sendiri dengan dua orang anak tinggal bersamanya. Perasaan nyaman tumbuh menjadi perasaan cinta kasih yang tak lagi bisa ku sangkal. Apalagi setelah aku tahu jika mas Farid adalah seorang duda, harapanku muncul, aku mulai berani kembali membuka hati. Begitupun mas Farid, memiliki perasaan yang sama denganku. Mas Farid akhirnya menikahiku enam bulan yang lalu.

Sungguh ini di luar dugaan, Atar putraku sangat dekat dan terlihat sangat nyaman berada di dekatnya, begitupun Sisil dan Vito menerimaku dengan sangat baik sebagai istri dari ayah mereka. Keduanya pun tidak keberatan jika harus menolongku menjagai Atar. Mereka memperlakukan Atar seperti adik mereka sendiri.

Sungguh Allah Maha Adil telah membalas kepedihan yang selama ini aku lalui, juga keresahan hati mas Farid selama berumah tangga bersama istrinya beberapa tahun silam. Kini kami hidup rukun dan bahagia. Kami sama-sama mengubur kenangan pahit yang pernah kami alami, dan sama-sama membuka lembaran baru membina kehidupan rumah tangga.

Matahari mulai condong ke barat ketika mas Farid membuka pintu mobil, mengagetkanku dari lamunan. Ia mengecup keningku, lalu mengelus perutku dengan lembut, sambil berkata “Maaf ya nak… kamu lama nungguin papah”. Bibirku tersenyum, sebagai bentuk rasa syukur yang teramat sangat. Mas Farid mengelus rambutku. “Jangan kebanyakan melamun… kasihan dede bayi kesepian, gara-gara mamanya diam aja…”

“Iya Mas… enggak kok. Gimana urusannya sudah selesai?” Ujarku seraya membetulkan posisi duduk.

“Alhamdulillah selesai, kita sekarang bisa bernafas lega. Mulai bulan depan usaha kita bisa mulai beroprasi. Adik mas yang akan mengelola usaha ini. Semoga dia bisa memegang kepercayaan yang Mas kasih”

“Lho, kenapa gak sama Mas dulu aja? Kan ini masih merintis Mas…”

“Gak ah… Mas tak mau terlalu sibuk. Biar sempat antar jemput Kakak Sesil dan Vito ke sekolah, mengawasi bi Inah jagain Atar, dan menemani kamu membesarkan bulatan ini…” Kalimatnya diakhiri dengan senyum yang begitu manis. Tangannya kembali mengelus perutku yang sebetulnya belum terlihat penampakan kehamilan. Aku baru saja tahu bahwa aku hamil empat minggu dua hari yang lalu. Mas Farid kembali mengecup keningku.

“Dinda.., Jika suatu saat Mas memintamu berhenti bekerja, kamu bisa melakukannya?” Mas Farid bertanya dengan pandanngan mata penuh harap.

“Aku mau Mas… Seandainya Mas memintaku untuk berhenti besok, sekarang juga aku ngomong sama atasanku” Mas Farid menggeleng,

“Mas gak akan membatasimu, lakukan apa saja yang kau mau, tapi jangan sampai lupa waktu, jaga kesehatan dan anak-anak kita ya…” Aku mengagguk patuh.

“Kamu lapar? Kita makan siang yuk! Mas tahu tempat makan paling enak di daerah dekat sini”

Tanpa menunggu persetujuanku mas Farid mengemudikan mobil keluar dari area parkir, menuju tempat makan yang katanya enak itu. Langit mulai redup, namun mentari tetap bersinar terang. Cerah, secerah hatiku.


 

KINI AKU BAHAGIA (cerpen)

Baca juga :

0
0
0
0
0
Komentar
PILIHAN TERBAIK UNTUK DIBACA
Likes Fourlook from Facebook
Bagikan ke Plurk