Sumber: vebma.com

Pernah nggak sih kamu dapat pertanyaan,

Tetangga: “Udah lulus ya kuliahnya?”

Kamu: “Dengan kekuatan bulan, akhirnya udah”

Tetangga: “Kerja apa sekarang?”

Kamu : “Freelancer? Kerjanya di rumah aja”

Tetangga : “Oh gitu, si Somad udah kerja di Perusahaan Pertamini noh”

Kamu : *y udah sih urusannya si Somad* (Tapi cuma bilang dalem hati doang sambil ngelus dada).

Hari gini, kalau nggak kerja kantoran bakal dicibir sama teman, tetangga dan keluarga. Apalagi dengan gelar sarjana yang didapat, seolah menuntut seseorang untuk bekerja sukses di perusahaan ternama. Padahal kan tolak ukur kesuksesan itu sendiri tergantung masing-masing orang ya, cuy?

Ada banyak profesi yang bisa kamu geluti selepas kuliah dan nggak melulu kerja kantoran. Salah satunya adalah Content Writer. Kerjaan ini nggak mengharuskan kamu untuk berangkat jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Cukup dengan duduk dimanapun kamu suka sambil nulis dan kapan pun maka kerjaan bisa kelar. Tapi gimana sih tanggapan orang di luar sana terhadap profesi ini?

1Dikira pengangguran

Sumber: health.detik.com

Namanya jadi penulis konten udah pasti kamu diberi kebebasan untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Sementara ide itu sendiri nggak bisa dipaksa kapan datangnya. Jadi biasanya para content writer memilih untuk bekerja di rumah atau tempat favorit buat nulis.

Pas itu juga, tetangga bakal ngelihat kamu nggak pernah berangkat ke kantor. Bisanya cuma di rumah sambil nyiram tanaman dan nonton tv. Otomatis mereka ngiranya pengangguran. Ya mau gimana lagi, emang nggak punya kantor. Padahal kalau mereka tahu, di dalem pikiran penuh banget sama deadline.

2Dikira pemalas

Sumber: shape.com

Kalau udah dicap sebagai pengangguran, otomatis dapet gelar baru yaitu pemalas. Alasannya karena nggak mau cari kerja kaya’ teman-teman lainnya yang udah kerja kantoran.

Padahal, namanya penulis konten ya suka-suka gue dong mau bangun jam berapa. Mau bangun siang, sore atau malem sekalipun, itu hak para kaum penulis. Sebab jam kerja mereka emang nggak terpatok. Tapi coba deh lihat isi email-nya, penuh dengan ancaman klien dan editor!

3Dikira nggak produktif

Sumber: www.rumah.com

Biasanya sih content writer paling senang kalau kerja malam hari. Katanya sih malam itu jujur gitu, aseeek. Alhasil mereka bekerja semalaman sampai dini hari dan baru bisa bangun siang hari pas udah terik-teriknya.

Keluar rumah, tetangga pada kerja semua. Cuma mereka aja yang garuk-garuk sambil pakai bebidol. Maka udah pasti dikira hidupnya nggak produktif. Ya udahlah suka-suka netizen mau bilang apa selama Planet Namek masih belum ditemukan.

4Dikira ngepet

Sumber: dreadout.wikia.com

Ini nih yang susah. Mau jelasin prosedur kerjanya penulis konten itu gimana, mereka juga bakal puyeng. Tahunya cuma bangun siang, nggak kerja, makan, nonton tv, habis itu tidur lagi. Tapi mereka juga heran kenapa seorang pengangguran dapat penghasilan dan bisa bayar cicilan motor? Inilah yang kemudian masyarakat menilai para content writer itu ngepet, guys.

Tetangga: “Bono, kamu nggak kerja tapi kok punya motor bebek?”

Kamu: “Iya bang, Alhamdulillah bisa nyicil dikit-dikit”

Tetangga: “Ngepet ya?”

Kamu : “Astagfirullah bang. Abang nggak tahu kalau saya ini kerja lembur bagai quda”

Tetangga: “Ya ngelemburnya ngepet, kan?”

Kamu: “Suka-suka dah bang! Capek aing”

Susah memang mau menjelaskan yang sebenarnya. Betapa hidup ini keras, guys. Tapi sih cuekin aja orang yang nganggap kamu macem-macem. Toh apa yang dikerjakan nggak seperti yang mereka tuduhkan. Ada yang punya pengalaman serupa nggak nih? (ind/flk)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here