Sumber: www.pilarislam.com

Pemimpn diharapkan agar bisa bersikap adil kepada umatnya. Mereka yang terpilih mengemban tugas berat baik di dunia maupun di akhirat. Amanah bukanlah hal yang main-main. Sebab melalui beban itulah, rakyat bisa berjalan secara terarah dan para penerus dapat mengikuti langkah pemimpinnya terdahulu.

Usai kematian Nabi Muhammad SAW, beliau menyerahkan kepemimpinan kepada para sahabatnya yakni Abu Bakar. Namun usai kematiannya, tugas pun diserahkan kepada Umar, Utsman dan Ali. Tiga Kulafaur Rasyidin ini menurut kisah mengakhiri hidupnya secara tragis.

Kepemimpinan mereka yang adil justru dirusak oleh orang-orang yang tidak menyukai pemerintahan tersebut. Umar, Utsman dan Ali meninggal dengan cara dibunuh. Bagaimana kisah selengkapnya? Simak ulasannya berikut ini!

1Umar bin Khattab ditusuk pedang berkepala dua

Sumber: masbidin.net

Menurut sejarah, seorang majusi bernama Abu Lu’luah merasa dendam terhadap keputusan Umar yang dirasanya tidak adil. Ia memang mengadukan perbuatan tuannya kepada sang pemimpin. Maka ia pun berkata,”Semua merasakan keadilannya (Umar) kecuali saya.”

Sementara menurut Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Abu Lu’luah tak hanya dendam secara pribadi tetapi juga kepada kaum muslimin. Sehingg ia juga menusuk 13 kaum muslimin yang menjalankan Shalat Subuh.

Ia membuat pisau berkepala dua dengan pegangan di tengahnya serta dibubuhi racun. Umar mendapatkan enam tusukan. Menjelang kematiannya, sang pemimpin diberi tahu bila yang membunuhnya adalah orang majusi bernama Abu Lu’luah. Maka ia pun berkata,”Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang yang mengaku muslim.”

2Utsman dibantai tanpa ampun

Sumber: pinterest.co.uk

Sepeninggalan Umar, Utsman pun terpilih sebagai pemimpin selanjutnya. Enam tahun pertama masa pemerintahan, semua baik-baik saja. Hati sang pemimpin yang lembut dan bijak menjadi hal yang paling menyenangkan di masa itu.

Namun secara bersamaan, muncullah fitnah yang disebarkan kepada masyarakat awam tentang pemerintahan Utsman. Menurut Dr. Ali Muhammas Ash-Shalabi, yang menjadi dalang dari fitnah adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman yang kala itu berkeliling kota-kota Islam untuk menyebarkan rumor.

Akibatnya rumah Utsman dikepung selama 40 hari. Sampai-sampai air pun dilarang masuk. Para sahabat dan anak-anak turut melindungi sang pemimpin yang dihadang oleh sekitar 600 orang itu.

Namun pada Ashar, tepat pada Hari Jum’at 8 Dzulhijjah 35 H, pemberontak berhasil masuk ke rumah Kening Utsman ditusuk, bagian bawah telinga ditusuk hingga masuk kerongkongan. Pedang kemudian ditebaskan lagi.

Saat Utsman roboh, Amr bin Hamaq menindih dada dan memberinya 9 tusukan. Sahabat nabi yang lembut hatinya ini pun syahid seperti yang dikatakan oleh Rasulullah. Pembunuhan itu turut menodai Surat al-Baqarah yang sedang dibaca Utsman saat itu.

3Ali Ditusuk dengan pedang saat Shalat Subuh

Sumber: shia-ali.deviantart.com

Di zaman Khalifah Ali, sekelompok muslim dengan alirannya yang sesat bernama Kawarij muncul. Mereka tak sepaham dengan para sahabat Nabi, termasuk Ali. Bahkan hal ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah ketika masih hidup.

Untuk menghadapi itu semua, sebagai pemimpin Ali pun memperingatinya dengan baik-baik tanpa menyinggung. Namun perlakukan yang semakin menjadi-jadi, seperti meneror, merampok, hingga menumpahkan darah membuat sang pemimpin tidak tinggal diam hingga tercetuslah Perang Nahrawan. Dari pihak Kawarij, seluruhnya habis. Sementara dikubu Ali, korbannya sekitar 12 orang.

Sejak hari itu, kaum Kawarij pun semakin dendam dan merencanakan pembunuhan kepada orang-orang penting dalam pemerintahan. Akhirnya, tepat di bulan Ramahdan 40 H, Abdurahman bin Muljam beserta teman-temannya yang telah mengamati Ali membunuh sahabat Nabi tersebut.

Abdurrahman menghujam Ali dengan pedangnya hingga meninggalkan luka yang serius. Kepala dokter yang menangani, Atsir bin Amr as-Sukuni menyatakan bila lukanya dapat menyebabkan kematian. Akhirnya, sang pemimpin pun hanya bisa bertahan selama 3 hari dan meninggal pada 21 Ramadhan 40 H.

Sungguh pembunuhan kejam yang dilakukan pada para sahabat Nabi. Ironisnya, pembunuhan yang dilakukan kepada Ali masih saudara Muslim sendiri.

Segala sesuatu memang ada yang suka dan tidak. Sekeras apa pun menjelaskan diri kita pada pembenci tetap mereka tak akan melihat. Sementara mereka yang menyukai tak butuh penjelasan apa pun dari kita. Begitu yang di katakan Ali bin Abi Thalib. (ind/flk)

Source: Era Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here