Sumber: exneefmeef.wixsite.com

Karya sastra dibuat melalui pemikiran matang dari penulisnya. Meski inspirasi datang kapan dan di mana pun namun tak sembarang orang bisa menterjemahkan imajinasi itu menjadi sebuah tulisan yang layak.

Sastra klasik Indonesia hadir memberikan pembaharuan bagi tulisan terdahulunya. Memiliki cerita yang lebih kompleks, menyangkut keadaan sosial, karakter nyata hingga penggambaran detail sehingga ceritanya masih relevan saat dibaca dari masa ke masa.

Meski kini sastra sudah berkembang menjadi sesuatu yang lebih modern dan bermunculan banyak aliran. Namun 5 sastra klasik berikut ini, wajib dibaca oleh generasi milenial karena memiliki cerita yang masih berlaku dengan keadaan masa kini. Simak ulasannya berikut ini!

Anak Bajang Menggiring Angin – Sindhunata

Sumber: ebooks.gramedia.com

Sebelum dikemas dalam sebuah buku, cerita tentang Ramayana ini awalnya diterbitkan setiap akhir pekan di Kompas pada tahun 1981. Sang penulis mencoba untuk menggambarkan tokoh-tokoh Ramayana layaknya manusia yang memiliki banyak sifat dan seringkali absurd.

Meskipun mengangkat kisah klasik Mahabarata, namun Anak Bajang Menggiring Angin ditulis dengan alur dan pembahasan yang modern, sehingga masih bisa diikuti oleh generasi selanjutnya.

Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Sumber: paxdhe-mboxdhe.blogspot.co.id

Pernah diangkat dalam sebuah film layar lebar pada 2011 lalu, Ronggeng Dukuh Paruk memiliki latar belakang era 60-an. Mengisahkan tentang penari ronggeng bersama teman masa kecilnya, Rasus.

Dulu, para penari mengalami masa kejayaan. Srintil pun menjadi salah satu penari favorit yang merasakan gegap gempita dunia hiburan kala itu. Namun lambat laun, semua berubah menjadi kebalikannya yang dilatar belakangi oleh tragdei 65.

Orang-orang Bloomington – Budi Darma

Sumber: PilihBuku.com

Novel ini ditulis oleh Budi Darma saat menempuh pendidikan di Bloomington, Amerika Serikat pada tahun 70-an. Ceritanya ringan, tentang kehidupan manusia sehari-hari yang dilatar belakangi oleh Negeri Paman Sam. Namun, sang penulis berhasil menghidupkan cerita melalui karakter-karakter kuat seperti Orez, Charles Lebourne sampai Joshua Karabish.

Robohnya Surau Kami – AA Navis

Sumber: www.tokopedia.com

Ditulis dengan latar belakang agama, Robohnya Surau Kami tak luput dari kritik sosial. Dari kesembilan karya AA Navis, buku ini mengundang pro dan kontra namun bisa menjadi sebagai bahan perenungan.

Terbit pertama pada 1965, novel tersebut mengingatkan pada manusia bahwasanya hidup tak cukup hanya beribadah. Namun juga diimbangi dengan usaha, berdoa kemudian beramal. Menarik, bukan?

Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer

Sumber: bukalapak.com

Pramoedya Ananta Toer ahli dalam mengangkat budaya Jawa dalam setiap tulisannya. Kali ini kisahnya masih tentang kelas sosial, dan kesetaraan. Namun Gadis Pantai mengangkat isu-isu perempuan yang berhasil membongkar feodalisme dalam tradisi Jaawa.

Sebenarnya kisah ini diangkat oleh Pram berdasarkan cerita neneknya setelah diusir dari Rumah Bendoro karena ingin hidup sendiri. Bukankah kini kesetaraan perempuan masih menjadi isu yang sesekali diperdebatkan?

Lima karya sastra di atas sepintas seperti cerita berat. Namun nyatanya, mereka memiliki kisah ringan dan problem-nya masih sering ditemui hingga kini. Yuk, di-list mana dulu yang akan kamu baca di waktu luang? (ind/flk)

Source: Womantalk.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here